Kamis, 17 April 2014 0 komentar

Citraan Puisi atau Imajeri

Citraan (imagery) merupakan gambaran angan penyair dalam sebuah puisi. Penggunaan citraan dalam puisi berfungsi (1) untuk memberikan gambaran yang jelas isi dan pesan dalam puisi, (2) untuk menimbulkan suasana tertentu dalam puisi, dan (3) untuk membuat kesan lebih nyata dan menarik. 

Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indera penglihatan). Citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran.


Jenis/macam citraan (imaji) 
Citraan Penglihatan (visual imegery)

Citraan penglihatan adalah citraan yang ditimbulkan oleh indera penglihatan (mata). Citraan ini paling sering digunakan oleh penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indera penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat.

Contoh:
Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
(Amir Hamzah, Padamu Jua)

Citraan Pendengaran (auditory imagery)
Citraan pendengaran adalah citraan yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, dentum, dan sebagainya. Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga).
Contoh:
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
(Chairil Anwar, Sajak Putih)

Citraan Perabaan (tactile imagery)
Citraan perabaan adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indera peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang dapat dirasakan kulit, misalnya dingin, panas, lembut, kasar, dan sebagainya.
Contoh:
Kapuk randu, kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermerkahan
(WS Rendra, Ada Tilgram Tiba Senja)

Citraan Penciuman (olfactory)
Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Citraan ini tampak saat kita membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium sesuatu.
Contoh:
Dua puluh tiga matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
(WS Rendra, Nyanyian Suto untuk Fatima)

Citraan Pencecapan (gustatory)
Citraan pencecapan adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera pencecap. Pembaca seolah-olah mencicipi sesuatu yang menimbulkan rasa tertentu, pahit, manis, asin, pedas, enak, nikmat, dan sebagainya.
Contoh:
Dan kini ia lari kerna bini bau melati
Lezat ludahnya air kelapa
(WS Rendra, Ballada Kasan dan Patima)

Citraan Gerak (kinaesthetic imagery)
Citraan gerak adalah gambaran tentang sesuatu yang seolah-olah dapat bergerak. Dapat juga gambaran gerak pada umumnya.
Contoh:
Pohon-pohon cemara di kaki gunung
pohon-pohon cemara
menyerbu kampung-kampung
bulan di atasnya
menceburkan dirinya ke kolam
membasuh luka-lukanya
(Abdulhadi, Sarangan)
 


Selain citraan tersebut, ada ahli sastra yang menambahkan jenis citraan lain.
Citraan Perasaan
Puisi merupakan ungkapan perasaan penyair. Untuk mengungkapkan perasaannya tersebut, penyair memilih dan menggunakan kata-kata tertentu untuk menggambarkan dan mewakili perasaannya itu. Sehingga pembaca puisi dapat ikut hanyut dalam perasaan penyair.
Perasaan itu dapat berupa rasa sedih, gembira, haru, marah, cemas, kesepian, dan sebagainya.
Contoh 1:
Alangkah pilu siutan angin menderai
Mesti berjuang menghabiskan lagu sedih
Kala aku terpeluk dalam lengan-lenganmu
Sebab keinginan saat ini mesti tewas dekat usia
(Toto Sudarto Bachtiar, Wajah)

 Contoh 2:

Gerimis telah bersedih
Di atas bumi yang letih
Di atas jasad yang pedih
Jiwa menangis diiris sedih
Berlumuran durja penuh kesedihan
Jiwa tersedu menangis merintih
Badan terkulai penuh penderitaan


Citraan Intelektual
Citraan intelektual adalah citraan yang dihasilkan oleh/ dengan asosiasi-asosiasi intelektual.
Contoh:
Bumi ini perempuan jalang
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
ke rawa-rawa mesum ini
dan membunuhnya pagi hari
(Subagio Sastrowardoyo, Dewa Telah Mati)

Sumber: 
http://id.wikipedia.org/wiki/Citraan diakses 17 April 2014
Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
dan sumber lainnya dengan beberpa perubahan dan penambahan.

Rabu, 17 Juli 2013 5 komentar

DIALOG INTERAKTIF




1. Pengertian Dialog Interaktif
Dialog interaktif merupakan forum yang mendiskusikan masalah aktual dan penting untuk dibahas. Dalam diskusi itu pemirsa atau pendengar dapat terlibat secara langsung dalam diskusi. Apabila terdapat permasalahan yang perlu diketahui atau perlu disampaikan dalam diskusi, pemirsa atau pendengar dapat mengajukan pertanyaan atau menyampaikan gagasan melalui telepon. Dengan begitu, informasi yang diperoleh dari dialog interaktif akan makin lengkap dan berimbang. Itulah beberapa hal yang menyebabkan perlunya penguasaan kompetensi dasar menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi atau siaran radio. Dialog interaktif adalah kegiatan bertanya jawab yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang bertujuan untuk mendapatkan suatu informasi. Berdialog dengan narasumber dapat disebut juga sebagai kegiatan wawancara. Di dalam dialog interaktif tersebut tentunya terdapat isi yang perlu untuk dipahami. Berdasarkan dialog tersebut, kalian dapat menyimpulkan isi dialog dengan baik.

2. Menentukan Tema Dialog Interaktif
Tema merupakan ide pokok yang mendasari sebuah kegiatan. Cara menentukan tema dapat diambil dari intisari kegiatan yang dilakukan. Jika kegiatan tersebut berupa dialog, maka tema dapat diketahui dari isi percakapan yang dialkukan beberapa orang yang terlibat dalam dialog tersebut. Tema juga dapat ditemukan dari perumusan pokok-pokok isi dialog.

3. Merumuskan Pokok-pokok Dialog Interaktif Menggunakan Prinsip 5W1H
Dari kegiatan mendengarkan tersebut kalian dapat mencatat hal-hal penting dan menyimpulkan isi dialog yang kalian dengarkan itu. Sama halnya dengan berita, dalam dialog interaktif kalian juga harus menerapkan prinsip 5W + 1H berikut ini.
what (apa)           : apa yang didialogkan
who (siapa)          : siapa yang berdialog
when (kapan)       : kapan dialog dilakukan
where (di mana)   : di mana dialog dilakukan
why (mengapa)    : mengapa dialog dilakukan
how (bagaimana) : bagaimana hasil dialog tersebut

4. Menyusun Kalimat sesuai Pokok-pokok Dialog Interaktif
Pokok-pokok yang telah dirumuskan akan disusun menjadi kalimat-kalimat yang tepat. Kalimat tepat yang dimaksud adalah kalimat yang efektif dan mudah di mengerti. Rumusan pokok tersebut dimasukan dalam kalimat.
Sabtu, 13 Juli 2013 0 komentar

KOMPETENSI DASAR KELAS IX SEMESTER GANJIL TAPEL 2013/2014


Minggu, 21 Oktober 2012 0 komentar

KARANGAN DAN JENISNYA




A.     Pengertian Wacana/Karangan
Wacana adalah sebuah tulisan yang teratur menurut urut-urutan yang semestinya atau logis. Dalam wacana setiap unsur-unsurnya harus memiliki kesatuan dan kepaduan. Sebelum menulis wacana, seseorang harus menentukan tema, tujuan yang sesuai dengan bentuk wacana, dan menyusun kerangka karangan.
Membuat kerangka karangan sangat dianjurkan sebelum penulisan, terutama bagi pengarang pemula. Agar penyusunan kerangka karangan menjadi acuan pembuatan karangan, calon penulis sebaiknya mengetahui langkah-langkah menyusun kerangka karangan. Kerangka karangan dapat di tulis dalam dua bentuk, yaitu kerangka kalimat dan kerangka topik.

B.    Jenis-Jenis Wacana/Karangan
Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentatif, dan persuasi.
1.    Narasi
Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Narasi dapat berbentuk narasi ekspositoris dan narasi imajinatif. Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi adalah kejadian, tokoh, konflik, alur/plot, serta latar yang terdiri atas latar waktu, tempat, dan suasana.

2.    Deskripsi
Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan/suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulisnya. Untuk mencapai kesan yang sempurna bagi pembaca, penulis merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan. Dilihat dari sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu deskripsi imajinatif/impresionis dan deskripsi faktual/ekspositoris.

3.    Argumentasi
Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karyakarya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah-makalah untuk seminar, simposium, atau penataran.

Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu menentukan objek pengamatan, menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi, mengumpulkan data atau bahan, menyusun kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi karangan. Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola penyajian urutan topik yang ada dan urutan klimaks dan antiklimaks.

4.    Eksposisi
Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran pendapat pengarang. Tahapan menulis karangan argumentasi, yaitu menentukan tema atau topik permasalahan, merumuskan tujuan penulisan, mengumpulkan data atau bahan berupa: bukti-bukti, fakta, atau pernyataan yang mendukung, menyusun kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi karangan. Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebab-akibat, akibat-sebab, atau pola pemecahan masalah.

5.    Persuasi
Persuasi ialah tulisan yang bertujuan meyakinkan pembaca agar melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh penulis pada saat sekarang maupun pada waktu yang aka datang.Dengan tujuan akhir agar pembaca melakukan sesuatu, maka persuasi termasuk dalam cara-cara untuk mengambil keputusan.
 
;